Tambirejo- Grobogan (04-02-2020).  Dalam kegiatan Musdes Pelaksanaan Pembangunan Desa di Desa Tambirejo pada tanggal 3 Februari 2020,  ada hal yang cukup menarik bagi penulis, yaitu mengenai isi sambutan dari Camat Toroh Bp. Drs. Muhamad Arifin. Materi sambutan tersebut memang agak berbeda dari kebiasaan, karena isinya bukan hanya masalah kegiatan pelaksanaan pembangunan desa tahun 2019 namun ada hal yang penting yaitu mengenai kelestarian alam. Hal ini sangat sesuai dengan kondisi saat ini yang di mana- mana terjadi bencana alam berupa banjir, tanah longsor dan sebelumya adanya kekeringan yang berkepanjangan. Kejadian tersebut memang karena ulah manusia dengan jiwa serakah dan ketamakannya untuk menguasai mayapada. Memang bumi seisinya disediakan Allah swt. untuk manusia , karena manusialah yang sanggup mengemban amanah untuk menjadi khalifah di bumi ini, setelah, malaikat, dan iblis tak mau dan tak sanggup mengemban amanah dari Allah swt. Namun karena sifat serakahnya manusia saat ini bumi sudah rusak,dan hal ini perlu ada pelestarian alam ini.

Adapun beberapa poin yang disampaikan Bapak Camat Toroh  dalam musdes kemarin adalah sebagai berikut :

  1. Hasil pembagunan selama ini agar digunakan sebaiknya dan dijaga kelestariannya.
  2. Keterbukaan Informasi Publik bisa meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa.
  3. Dalam perjalanan waktu kegiatan di desa dimungkinkan ada perubahan kegiatan yang perlu segera ditangani karena belum dianggarkan di APBDes.
  4. BPD dan Pemerintah Desa untuk bersama menginventarisir kegiatan lembaga perekonomian yang ada di desa, ada UED SP, PUAP, Lumbung Desa dan lainnya, yang semuanya itu bisa sebagai modal awal untuk pembentukan BUMDes. BUMDes harus dipegang orang- orang yang menangani kegiatan tersebut sehingga tahu permasalahannya dan tidak hanya ikut ikutan.
  5. Gerakan PSN perlu digalakkan, di musim seperti ini sangat mendukung perkembangan nyamuk, gerakan PSN bisa dijadikan event yang menarik, sehingga warga akhirnya sukarela untuk ikut.
  6. Setiap elemen masyarakat mempunyai peran yang berbeda dalam menjaga kelestarian alam, harus di mulai dari diri sendiri.
  7. Penghijauan perlu digalakkan lagi bisa dengan turus jalan dengan penanaman pohon talok (kersen ) .
  8. Back to nature perlu dilaksanakan dimulai dari Pemerintah Desa, dengan menjaga kesuburan tanah kas desa yang disewakan dengan penggunaan pupuk organik.

 Poin 1 s.d. 5 mungkin sudah hal biasa yang harus dilakukan oleh Pemerintah Desa, namun poin 6 s.d 8 merupakan hal yang baru bagi desa, yang bisa saya sebut back to nature ( kembali ke alam ). karena hal tersebut akan kami kupas satu persatu mengenai poin tersebut.

  1. Setiap elemen masyarakat mempunyai peran yang berbeda dalam menjaga kelestarian alam, harus di mulai dari diri sendiri.

Hal ini memang benar harus dilakukan oleh setiap manusia yang hidup dibumi ini, setiap pribadi harus sadar bagaimana menjaga kelestarian lingkungan alam. Manusia dapat memanfaatkan alam secara bijaksana, merawatnya, memeliharanya dari kerusakan, dan mempertahankannya demi kemaslahatan manusia itu sendiri, yang manfaatnya kembali kepada manusia dan anak cucunya di masa yang akan datang. Hal ini dimulai dari yang kecil misalnya pengurangan penggunaan plastik, bahan- bahan kimia dan lainnya yang dimulai dari keluarga, kalau hal ini bisa dilakukan merupakan hal yang luar biaya bagi kelestarian alam.

  1. Penghijauan perlu digalakkan lagi bisa dengan turus jalan dengan penanaman pohon talok (kersen ).

Mungkin hal ini merupakan hal sepele tapi coba kita lihat apa itu pohon talok?. Kersen atau talok atau kerukup siam (Muntingia calabura) secara lokal disebut kersen atau kersem adalah sejenis pohon sekaligus buahnya yang kecil dan manis berwarna merah cerah. Di beberapa daerah, seperti di Jakarta, buah ini juga dinamai ceri (untuk ceri dari Genus Prunus, lihat ceri). Dalam Bahasa Madura, buah ini disebut “kersen” baleci. Nama-nama lainnya di beberapa negara adalah datiles, aratiles, manzanitas (Filipina); mât sâm (Vietnam); khoom sômz, takhôb (Laos); takhop farang (Thailand); krâkhôb barang (Kamboja); dan kerukup siam (Malaysia).Juga dikenal sebagai capulin blanco, cacaniqua, nigua, niguito (bahasa Spanyol); Jamaican cherry, Panama berry, dan Singapore cherry (Inggris). Orang Belanda dulu menyebutnya Japanse kers (“ceri jepang”), yang lalu dari sini diambil menjadi kersen dalam bahasa Indonesia atau ada yang menyebutnya ceri.( wikipedia). Pohon talok merupakan pohon pionir yang mudah tumbuh di daerah tropis, sehingga tahan akan cuaca panas maupun dingin, dengan Perdu atau pohon, tinggi sampai 12 m, meski umumnya hanya sekitar 3-6 m saja. Hijau abadi dan terus menerus berbunga dan berbuah sepanjang tahun.Cabang-cabang mendatar, menggantung di ujungnya; membentuk naungan yang rindang. Ranting-ranting berambut halus bercampur dengan rambut kelenjar; demikian pula daunnya. Dan mudah dibentuk dan cepat tumbuh. Pelbagai bagian dari kersen (pepagan, daun, bunga, dan buah) mengandung aneka bahan aktif yang berkhasiat obat. Bunganya bersifat antispasmodik (meredakan kekejangan otot); rebusan bunganya dipakai untuk mengatasi kram perut. Bunga dan daunnya juga bersifat antiseptik atau antibakteri, dan digunakan untuk meringankan sakit kepala dan selesma. Khasiat yang lain adalah sebagai antioksidan, anti-radang, antipiretik, analgesik, antipruritik, antiulcer, antifungal, insektisidal, dan banyak lagi sifat lainnya. untuk kegiatan penanaman pohon ini Bapak Camat telah melaksanakan tindakan riil dengan memberikan bantuan kepada desa- desa se Kecamatan Toroh berupa 50 kantong polibag siap tanam bagi setiap desa.

  1. Back to nature perlu dilaksanakan dimulai dari Pemerintah Desa, dengan menjaga kesuburan tanah kas desa yang disewakan.

Masalah ini sebelumnya kami pesimis, untuk melaksanakan. Karena selama ini pemerintah sudah menyediakan pupuk organik dalam satu paket pembelian dengan pupuk kimia. Namun petani tak menggubrisnya dan menggunakannya. Namun setelah mendapatkan penjelasan dari Pak Camat Toroh, saya geleng- geleng sendiri.  Dalam penjelasannya Pak Camat menyampaikan bahwa sistem untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian yang dimulai dari Pemerintah Desa adalah dengan cara sebagai berikut :

Caranya setiap pemenang lelang satu petak tanah pertanian kas desa diberikan pupuk organik yang diberikan secara gratis oleh desa, dan petani tersebut harus menggunakan pupuk tersebut. Dan hal ini tentu petani tidak keberatan karena tidak merasa terbebani untuk membeli pupuk organik, yang fungsinya bisa dinikmati setelah beberapa tahun. Kalau hal ini setiap tahun dilakukan , tentunya tanah kas desa yang digunakan untuk pertanian akan kembali subur, sehingga pemerintah desa dan petani yang diuntungkan.

Itulah back to nature ala Pak Camat Toroh Drs. Muhamad Arifin, semoga Pemeritah Desa bisa menjadi pionir untuk melakukan kegiatan back to nature tersebut. semoga semuanya mendapatkan ridha Allah swt . aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *