Tambirejo- Grobogan ( 04-03-2020 ) . Ada kejadian unik di Desa Tambirejo pada awal bulan Maret 2020 ini. Ya kiprah dari prajurit dan penegak hukum NKRI yang bertugas di Desa  Tambirejo yaitu Babinsa dan Bhabinkamtmbas memang luar biasa, yang sehari hari bertugas memikul senjata, namun ternyata bisa bertugas di bidang lain.

Sertu Saroni yang telah lama bertugas sebagai babinsa Tambirejo setiap waktu selalu aktif mengikuti kegiatan yang ada di desa.  Pada saat ini  Desa Tambirejo sedang panen raya padi , Sertu Saroni langsung terjun ke lapangan untuk memantau penen raya.

“ Untuk panen raya kali sebagian besar padi petani menjual hasil panen dengan sistem tebasan, rata- rata harga per seperempat bau ( 1667 m2 ) laku Rp. 5.000.000.- ( lima juta rupiah ) s.d Rp. 7.500.000,- ( tujuh lima ratus ribu juta rupiah ) tergantung dengan hasilnya” ujar Saroni.

Panen raya padi MT pertama ini seperti tahun tahun kemarin yang selalu diiringi  dengan curah hujan yang tinggi sehingga menyulitkan untuk pelaksanaan panen. Beberapa tahun ini sistem panen tidak hanya menggunakan peralatan manual seperti sabit atau alat dos perontok padi, namun sudah menggunakan perontok padi dengan thresher  bahkan sudah ada yang menggunkan combine harvester yang langsung memotong padi langsung disawah yang diolah langsung jadi gabah yang sudah masuk dalam sak/ karung. Semua alat panen padi tersebut ada keunggulan dan kelemahan masing- masing bagi petani. Dengan menggunakan alat thresher , kelemahannya masih perlu alat manual yaitu memotong padi dengan sabit dan harus membawa  hasil potongan tadi ke tepi jalan untuk dirontokan dengan thresher, banyak bulir padi yang tercecer sehingga waktu MT 2 banyak tumbuh tanaman padi liar serta membutuhkan banyak tenaga untuk panen. Keuntungannya lahan sawah tidak rusak karena mesin perontok ada di tepi jalan raya. Sedangkan dengan menggunakan combine harvester, keuntungannya panen lebih cepat karena mesin langsung turun ke lahan sawah , memotong, merontokan dan pembantu operator tinggal mengantongi padi, hasil nya juga lebih bersih dari kotoran, serta sedikit sekali bulir padi yang tercecer. Selain itu tidak butuh banyak tenaga sehingga operasional lebih efisien. Kelemahan combine harvester , karena harus turun langsung ke lahan sawah, maka lahan menjadi rusak ( bacek ) sehingga untuk pengolahan tanah pada MT berikutnya sulit dan perlu tambahan biaya. Untuk panen padi di Tambirejo saat ini masih banyak menggunakan thresher, karena permintaan petaninya.

Aiptu Agus Suwignyo  yang baru bertugas di awal tahun 2020, yang semula awalnya dari kesatuan Brimob Polda Jateng dan sudah lama beberapa tahun bertugas di Polres Grobogan maupun Polsek Toroh, merupakan putra Desa Tambirejo, putra dari Ketua LPMD Tambirejo Bp. Nadi. Dengan bertugas di Tambirejo Aiptu Agus Suwignyo tancap gas untuk menyesuaikan tugas barunya sebagai Bhabinkamtimas .  Aiptu Agus langsung turun ke lapangan bersama Sertu Saroni, seiring sejalan dalam mengemban tugas negara yang ada di tingkat paling bawah. Selain kegiatan rutin bidang keamanan juga langsung memantau panen dan bidang yang lain. Pada awal bulan ini Aiptu Agus Suwignyo turut serta mengikuti kegiatan posyandu yang ada di dusun- dusun.  Di Posyand Dusun Grogol Aiptu Agus Suwignyo  tak segan- segan turut melayani dengan menimbang balita satu persatu.

“ Kegiatan posyandu memang berbeda dengan kegiatan saya sehari- hari yang selama ini di kesatuan Brimob selalu memegang senjata, untuk menjaga keamanan nasional dari ancaman dari dalam negeri, namun setelah ditugaskan dimasyarakat harus beradaptasi dengan kegiatan yang ada di masyarakat,  sayuk rukun untuk menjaga iklim tetap kondusif dan harus bisa ajur-  ajer untuk melayani masyarakat dalam segala bidang” ujar Agus.

Itulah para bhayangkara NKRI yang selalu terus bekerja untuk berusaha memohon ridha Tuhan Yang Maha Esa untuk melindungi dan mengayomi masyarakat. Semoga semuanya mendapatkan ridha Allah swt. aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *