Grobogan-Tambirejo (27-03-2019) Pada hari ini untuk yang ketiga kalinya Yakub Raras Puspitanianto, S.Sos, atau dengan sebutan familiar Mas AAN, dilantik Bupati Grobogan menjadi Kepala Desa Tambirejo. Ya Mas AAN  untuk pertama kalinya sudah mengikuti Pilkades pada tanggal 8 Maret  2007, dilanjutkan pada pilkades kedua pada tanggal 9 Maret 2013 dan untuk yang ketiga pada tanggal 22 November 2018.  Dalam ketiga Pilkades tersebut Mas AAN selalu terpilih dengan selisih suara yang cukup signifikan.  Dalam Pilkades Pertama Mas AAN dilantik pada tanggal 25 Maret 2007 oleh Bupati Grobogan saat ini Bapak H. Bambang Pujiyono, SH . untuk pelantikan periode jabatan kedua pada tanggal 25 Maret 2013 juga oleh Bapak H. Bambang Pujiyono, SH. Dan untuk kali ini untuk periode ketiga jabatannya dilantik oleh Ibu Hj. Sri Sumarni, SH, MM. Pada kali ini dilantik bersama 221 Kepala Desa Kabupaten Grobogan yang lainnya, hasil Pilakdes serentak pada tanggal 22 November 2018 yang diikuti oleh 222 desa.

Mas Aan adalah yang lahir pada tanggal 20 Juni 1981 adalah putra kedua dari Pasangan Alm. H. Soekarmanto  dan Hj. Sulasih , S.Pd. dari tiga bersaudara.  Almarhum  H. Soekarmanto juga  merupakan Kepala Desa Tambirejo pada periode Tahun 1989 s.d 1997, dan periode Tahun 1998 s.d 2007. Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang  Nomor  6  Tahun  2014  tentang  Desa dalam pasal Pasal 39 ayat  (1) menyebutkan bahwa “Kepala Desa memegang jabatan selama 6 (enam) tahun terhitung sejak tanggal pelantikan.” Dan dalam ayat  (2) menyebutkan bahwa :  “  Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menjabat paling banyak 3 (tiga) kali masa jabatan secara berturut-turut atau tidak secara berturut-turut”.  Dengan ketentuan tersebut  jika tidak ada perubahan Peraturan Perundang- undangan tentang desa,  maka periode ini merupakan periode terakhir bagi Mas Aan.

Dalam kepemimpinan Mas Aan selama ini, telah banyak hal yang dikerjakan bagi Desa Tambirejo. Baik bidang penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kelembagaan masyarakat maupun bidang pemberdayaan masyarakat. Sehingga Desa Tambirejo bisa sejajar dengan desa yang lain. Untuk tahun 2016 Desa Tambirejo untuk Indek Desa Membangun ( IDM ) masuk katagori Desa Tambirejo masauk Desa Berkembang namun untuk Tahun 2018 sudah masuk katagori Desa Maju. Namun tidak hanya katagori IDM yang dibutuhkan warga masyarakat tapi yang utama masyarakat sejahtera lahir batin. untuk hal tersebut Mas AAN selama ini mungkin sedikit banyak telah mengenal dan melaksanakan asta brata dalam menjalankan tugas dan kewajibanya sebagai Kepala Desa Tambirejo. Sehingga beliau selama tiga kali Pilkades bisa terpilih, ini membuktikan bahwa beliau disayangi warga masyarakat Desa Tambirejo karena telah membawa kemajuan bagi desa tercintanya. Semoga dengan jabatan ketiga ini Mas Aan selalu amanah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai Kepala Desa dengan mendapatkan ridha Allah Swt.

Sekilas mengenai Asta Brata.

Sebagaimana dalam Serat Rama (Soetomo, Sujata, Astusi, 1993), dikisahkan sebagai wejangan Rama kepada Wibisana untuk memimpin kerajaan Ngalengka. Serat Rama merupakan gubahan dari Ramayana Kakawin yang ditulis dalam bahasa Jawa modern oleh Yasadipura I (1729-1803 M) seorang sastrawan Jawa kuno yang berasal dari Kasunanan Surakarta (Ricklefs, 1991). Asta Brata berasal dari bahasa Sansekerta, yang di dalamnya mencakup Asta (delapan) dan Brata (perilaku atau tindakan pengendalian diri). Asta Brata melambangkan kepemimpinan ideal yang merupakan manifestasi delapan unsur alam, yaitu; bumi, matahari, api, samudra, langit, angin, bulan, dan bintang.

Ilmu Asta Brata mulai diperkenalkan melalui lakon pewayangan Wahyu Makutharama. Pemimpin yang menguasai ilmu Asta Brata ini akan mampu melakukan internalisasi diri (pengejawantahan) ke dalam delapan sifat agung yang mewakili simbol kearifan dan kebesaran Sang Pencipta. Yasadipura I (1729-1803 M), pujangga keraton Surakarta menuliskan Asta Brata sebagai delapan prinsip kepemimpinan sosial yang meniru filosofi atau sifat alam, yaitu:

  1. Mahambeg Mring Kismo (meniru sifat bumi). Bumi, dalam hal ini diintepretasikan sebagai ibu pertiwi. Bumi memiliki peran sebagai ibu yang didalamnya mengandung perilaku memelihara dan menjadi pengasuh, pemomong, dan pengayom bagi makhluk yang hidup di bumi. Implementasinya adalah, Pemimpin harus memiliki unsur bumi yang mampu mengayomi dan melindungi anak buahnya. Secara praktik, sifat bumi juga memunculkan perhatian kepada kaum lemah dan mengarahkan kekuasaannya untuk mensejahterakan rakyat dan mengentaskan kemiskinan. (Sudharta, 2006)
  2. Mahambeg Mring Warih (meniru sifat air). Seorang pemimpin harus mempunyai sifat air yang mengalir. Implementasinya pemimpin harus memiliki kemampuan menyesuaikan diri baik dengan orang lain maupun dengan lingkungan sekitarnya. Ia juga mampu memperhatikan potensi, kebutuhan dan kepentingan pengikutnya dan memiliki kemampuan untuk membuka pikiran seluruh tim kerjanya secara luas. Selain itu, pemimpin memiliki kemampuan untuk menerima pendapat dari bawahan dan memikirkan baik-baik semua pendapat yang ada. (Sudharta, 2006)
  3. Mahambeg Mring Samirono (meniru sifat angin). Pemimpin yang menguasai sifat angin adalah ia yang selalu terukur bicaranya. Implementasinya adalah pada perilaku kehati hatian dalam bertindak dan perkataannya selalu disertai argumentasi serta dilengkapi data dan fakta. Kehati-hatian ini termasuk didalamnya melakukan check and recheck sebelum berbicara atau mengambil keputusan. (Sudharta, 2006)
  4. Mahambeg Mring Condro (meniru sifat bulan). Pemimpin melandasi tindakan dan perkataannya dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosio-emosional. Implementasinya, pemimpin memperhatikan harkat dan martabat pengikutnya sebagai sesama. Dalam istilah Jawa, perilaku tersebut dinamakan nguwongke. Selain itu, dalam perilaku kesehariannya ia mampu menjadi penuntun dan memberikan pengarahaan baik bersifat konkrit maupun ideologis kepada bawahannya. Konsep ini juga berkaitan erat dengan kemampuan pemimpin dalam memahami dan mengamalkan ajaran luhur yang terkandung dalam agama (religiusitas) dan menjunjung tinggi nilai-nalai moralitas. (Sudharta, 2006)
  5. Mahambeg Mring Suryo (meniru sifat matahari). Seorang pemimpin yang menguasai sifat matahari mampu memberikan energi positif berupa inspirasi dan semangat kepada rakyatnya. Implementasinya adalah kemampuan pemimpin untuk mendorong penyelesaian masalah. Hal ini meliputi kemampuan memberi petunjuk dan solusi atas masalah yang dihadapi bawahannya. (Mittal, 2006)
  6. Mahambeg Mring Samodra (meniru sifat laut/ samudra). Dalam Pustakaraja Purwa disebut langit. Dalam Manawa Dharmacasta, Serat Rama dan Niti Sruti disebut Baruna (Lautan). Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan hati dan pandangan. Implementasinya adalah perilaku pemimpin yang mampu menampung semua aspirasi dari orang lain dengan sabar, penuh kasih sayang, dan pengertian terhadap rakyatnya. Selain itu, Pemimpin harus memiliki wawasan yang luas berkaitan dengan pekerjaan ataupun bidang keilmuan lain yang relevan. (Sudharta, 2006)
  7. Mahambeg Mring Wukir (meniru sifat gunung). Seorang pempimpin hendaknya memiliki sifat gunung yang teguh dan kokoh. Implementasinya adalah ia harus memiliki keteguhan-kekuatan fisik dan psikis. Pempimpin tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun membela bawahannya. (Sudharta, 2006)
  8. Mahambeg Mring Dahono (meniru sifat api). Seorang pemimpin hendaknya menguasai sifat api. Implementasinya adalah ia harus cekatan dan tuntas dalam menyelesaikan persoalan. Pemimpin harus menunjukkan konsistensinya terhadap suatu tugas maupun prinsip. Ia juga mampu objektif dalam menegakkan aturan, tegas dan tidak memihak. (Pudja, 1980) (Sumber dari Penelitian Ilmiah ASTA BRATA oleh NINIK SETIYOWATI : Asta Brata : Pemetaan Kompetensi Kepemimpinan Jawa Untuk Meningkatkan Organizational Wellness Pada Institusi Pendidikan Di Jawa Timur) . admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *